Float – Soundtrack 3 Hari Untuk Selamanya
Gue menemukan kebuntuan untuk memutuskan kallimat pembuka tulisan ini. Again, words failed me. Yang terngiang-ngiang justru adalah kalimat-kalimat yang sepantasnya menjadi penutup. Mengadukan realita ini kepada seorang teman baik yang juga adalah seorang penulis yang cukup handal, sang teman baik dengan lugasnya bertanggapan “..ya mulai aja dari kalimat terakhir,”. What a genious. Knapa ga pernah terpikirkan oleh gue yaa?? (with a bit of sarkasm tone ;p).
I love it when my favorite song goes last. It’s orgasmic. It’s Too Much This Way; lagu yang tanpa sengaja gue anugrahi posisi penutup setiap saat gue memutar Soundtrack 3 Hari Untuk Selamanya, sebuah film yang gue jatuhi mahkota sebagai film Indonesia terbaik tahun 2007. Pertama kali mendengar Float sekitar seminggu setelah menonton filmnya pertengahan Juni 2007 lalu dan cuma menangkap tiga lagu yang terdengar empuk di telinga gue segera membuat gue ga ambil pusing sama 8 lagu lainnya. Pemenangnya sudah pasti 3 Hari Untuk Selamanya, lagu yang bisa mengobati sesal gue karena hanya berkesempatan satu kali nonton filmnya. Pulang adalah lagu yang sangat personal buat gue, and I’m too overwhelmed to give any minimum description. Just listen to it and feel the blissless lyric and tone. “Dan lalu, rasa itu tak mungkin lagi kini tersimpan di hati. Bawa aku pulang, rindu bersamamu..” mengingatkan gue pada rasa patah hati yang pernah ada dan masih agak menyentil. But lets skip the sentimental part.
“You and I stealing kisses from each other when we fight,” di Stupido Ritmo memunculkan senyum gue lagi. Romantika. Dengan musik yang sangat variatif dan ga monoton tapi tetap memunculkan ‘ke-Float-an’nya di sudut sini dan sudut sana, terutama vokal tanpa cela sang vokalis, akhirnya gue merasa telah mengkhianati mereka karena nggak pernah mendengarkan the whole album properly. Dimodali kebosanan yang memuncak sekitar dua minggu lalu gue mendedikasikan sepasang kuping gue untuk mendengarkan suara-suara lain yang selama ini agak terpinggirkan dan gue menemukan sisi magis di setiap musik dan lirik yang mereka sodorkan. Mendengarkan Sementara sejak detik pertama dimana kuping disuguhi bunyi riak kecil air yang terasa adalah damai. Perasaan yang sudah cukup langka dirasakan dan mungkin ga akan dirasakan dengan mudah tanpa difasilitasi media pendukung seperti musik.
……………………………………………………………
no star-gazing late at night | and no candle light | no french-speaking, no moonlight | it just came out right | no wondering words to say | and no music play | its just simply found today | love’s too much this way| beauty’s what i’ve found in you | and true romance, too | there won’t be just “i love you” | what i’ll say to you | no pretending to be nice | i wont need it twice | and i will go and tell all the guys | about the magic in your eyes | it takes no moon, it takes no sunshine | and neither June with the bluest skies | she wore no perfume, i brought no wine | my love is hers, her love is mine |
Float’s Too Much This Way – Track 9/11
…………………………………………………………………………
Dihadapkan pada realita lain lagi bahwa Too Much This Way sebenernya bukan lagu terakhir, gue ga perduli. Ga semua kesalahan harus diperbaiki, terkadang itu membawa kita ke keadaan yang lebih baik daripada kebenaran itu sendiri. So, Too Much This Way still goes last, still is my fave song in the album, and still is orgasmic. Yang terhormat Hotma Roni Simamora ( Vocal /Guitar), W. Benyamin ( Sound Design /Guitar), Raymond Agus Saputra ( Bass /Backing Vocal), Timur Segara ( Drums), you guys will definitely have your band’s name on the wall.

aku belum nonton ni.. lagunya emang enak-enak ? kamu udah pernah kasih ke aku blom ya ?
ayu
June 16, 2008