Keadaan berubah, perasaan tidak.
Last week I had the strangest dream
Where everything was exactly how it seemed
Where there was never any mystery of who shot John F. Kennedy
It was just a man with something to prove
Slightly bored and severely confused
He steadied his rifle with his target in the center
And became famous on that day in November
Don’t wake me I plan on sleeping in
Manusia memang aneh. Dan mereka menjadi lebih aneh lagi ketika sedang mengalami waktu terburuk di hidupnya. Di dunia hitam, putih, dan abu-abu ini saat itu yang terlihat hanya hitam. Tanpa disadari, keputusan yang diambil semakin menyedot mereka ke area hitam itu dan semakin menjauhkan mereka dari area putih dimana semuanya seharusnya lebih mudah. Lebih mudah dihadapi, lebih mudah dijalani, lebih mudah dimengerti.
Saat analogi ini terrelasikan ke cara sesorang menyayangi orang lain, saat itulah semua yang salah menjadi semakin salah. Yang seharusnya sangat mudah menjadi luar biasa sulit. Yaitu menyayangi seseorang dengan tulus, sebodoh apapun kelihatannya, tanpa mengharapkan apapun kembali.
All right, I’m rambling.
And then last night I had that strange dream
Where everything was exactly how it seemed
Where concerns about the world getting warmer
The people thought that they were just being rewarded
For treating others as they like to be treated
For obeying stop signs and curing diseases
For mailing letters with the address of the sender
Now we can swim any day in November
Don’t wake me I plan on sleeping in
Semalam gue tercerahkan oleh obrolan dengan seorang sahabat. Loving should be easy. Kalo menyayangi seseorang seharusnya mempermudah keadaan dan bukan sebaliknya. Bahwa menyayangi seseorang artinya tidak mengkomplikasi keadaan, bahkan ketika keadaan itu memang penuh komplikasi. Dan ketika keadaan itu berubah menjadi sesuatu yang kita tidak siap untuk hadapi, bukan berarti kita harus memvonis bahwa perasaan pun sudah berubah dan berontak habis2an karena ga terima.
Coba lihat dengan cara ini.
Menyenangkan sekali untuk selalu memiliki seseorang yang memperhatikan kita, yang mengkhawatirkan kita, dan menunjukkan kepada kita bahwa mereka memperhatikan dan mengkhawatirkan kita. Tapi hal itu ga akan berlangsung selamanya. Akan tiba saatnya seseorang itu memperhatikan kita, mengkhawatirkan kita, tapi tidak menunjukkannya sama sekali. Kenapa? Hanya karena mereka sudah tidak punya waktu. Egois? Kedengarannya sangat egois. Tapi hanya terdengarnya. Karena sebenarnya mereka masih memperhatikan dan mengkhawatirkan kita, dan mereka tahu bahwa kita tahu mereka merasakan hal-hal itu terhadap kita sehingga notifikasi tidak lagi diperlukan. Terdengar terlalu positive-thinking ? Memang sebaiknya begitu.
Karena biarpun keadaan berubah, tapi perasaan tidak.
Dengan mengetahui kenyataan itu pun masih saja sulit, untuk merelakan kehilangan akan perhatian dan kemudahan yang sebelumnya disodorkan kepada kita. Untuk menyadari bahwa hanya hal2 itu yang hilang, sementara yang bersangkutan sebenernya tidak kemana-kemana. Yang lebih gampang adalah, mengingat bahwa once upon a time, we had it all, but our time flies forward, never backward. Mungkin masih terasa tidak adil dan tidak sepadan, tapi ini cuma masalah proses. Bersyukurlah karena kita, manusia, diberkahi kemampuan beradaptasi. Modalnya cuma waktu, yang mungkin bisa bervariasi jangkanya. Tapi pada akhirnya kita akan sampai di ujung jalan itu, saat kita akhirnya bisa menertawakan keadaan yang tertinggal di belakang. Gue belum sampai di ujung jalan itu, tapi gue sedang berjalan ke arahnya sekarang. Physically alone, but crowded in heart.
Lagu tema dari tulisan nyaris tak bermakna ini adalah milik The Postal Service – Sleeping In, yang sudah menemani gue beberapa hari terakhir ini.